Kepala Desa Wonoasri Bapak Meseran membuka acara Kirab Budaya Spontan 2 dengan memotong pita digaris Start Dusun Curahlele
Wonoasri, Tempurejo—Semangat pelestarian budaya dan keguyuban warga Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, tak pernah padam. Hal ini terbukti dari suksesnya pelaksanaan Kirab Budaya Spontan (Slametan Kelepon dan Ketan) ke-2 pada hari Rabu, 1 Oktober 2025. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Desa Wonoasri ke-31 tahun.
Kirab yang bertajuk unik ini menjadi magnet bagi ribuan pasang mata, baik dari warga desa sendiri maupun dari luar daerah. Kemeriahan Kirab bahkan berlangsung hingga menjelang subuh, menjadikannya tontonan yang tak terlupakan.
Acara dimulai pada pukul 15.30 WIB dengan sambutan dan pelepasan Kirab yang dilakukan secara langsung oleh Kepala Desa Wonoasri, Bapak Meseran. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menjaga tradisi dan semangat kebersamaan yang telah diwariskan oleh leluhur.
"Kirab Budaya Spontan ini adalah wujud syukur kita atas usia Desa Wonoasri yang ke-31 tahun. Ini adalah cara kita melestarikan budaya dan mempererat tali silaturahmi. Semoga desa kita semakin maju dan makmur," ujar Bapak Meseran saat membuka acara.
Kemeriahan semakin lengkap dengan kehadiran Camat Tempurejo Bapak Muhammad Najmul Huda,S.STP.,M.Si, yang turut memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif budaya warga Wonoasri. Kehadiran beliau menjadi simbol dukungan penuh dari pemerintah kecamatan terhadap kegiatan pelestarian kearifan lokal.
Kirab budaya kali ini diikuti oleh 14 grup peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari dusun curahlele , dusun kraton, dan organisasi kepemudaan. Setiap grup menampilkan kreativitas tak terbatas dengan berbagai kostum unik, seni pertunjukan, dan properti berukuran besar.
Sesuai namanya, tema utama "Slametan Kelepon dan Ketan" diwujudkan dalam berbagai bentuk arak-arakan. Mulai dari gunungan kecil Klepon dan ketan, replika raksasa kue klepon, hingga tari-tarian daerah. Pakaian adat, hingga iringan musik tradisional dan modern berpadu menciptakan suasana karnaval yang sarat makna.
Antusiasme warga yang tumpah ruah di sepanjang rute Kirab membuat arak-arakan berjalan lambat namun penuh kehangatan. Rombongan pawai yang mulai bergerak pada sore hari harus melewati rute yang panjang, hingga akhirnya rombongan terakhir tiba di garis akhir pada pukul 02.00 WIB dini hari.
Lama waktu pelaksanaan ini menjadi bukti tingginya partisipasi dan totalitas seluruh peserta dalam memeriahkan hari jadi desa mereka. Meskipun berlangsung hingga larut malam, semangat penonton dan peserta tak sedikitpun pudar, menandakan betapa berharganya perayaan budaya ini bagi masyarakat Wonoasri.
Kirab Budaya Spontan "Slametan Kelepon dan Ketan" ke-2 ini tidak hanya sukses sebagai hiburan rakyat, tetapi juga berhasil menegaskan komitmen Desa Wonoasri untuk menjadikan budaya sebagai pondasi pembangunan dan persatuan.